Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2021

from Toxic Zone to Addict Zone [4/4]

 I’m Addicted

Siapakah orang – orang ‘baik’ ini? Mengapa ada tanda petik di antara kata baik? Karena mereka bukan orang – orang yang selalu bisa menyampaikan hal – hal baik dengan cara yang baik. Halah hahahaha.

Jika masa SMK adalah masa di mana aku sudah mencapai permukaan yang cerah. Maka masa setelahnya adalah masa di mana aku berkesempatan untuk melihat pemandangan indah dan berkeliling di sekitar pantai juga dermaga.

from Toxic Zone to Addict Zone [3/4]

 Dia Toxic (?)

Seberapa sering mendengar tentang Toxic Relationship? Dilansir dari Verywell Mind, Toxic Relationship bisa muncul secara bertahap apabila salah satu pihak terus-menerus egois, tidak sopan, menuntut, dan bersikap negatif lainnya[i].

Karena alasan itulah kebanyakan orang yang berada dalam hubungan tersebut memiliki kecenderungan tidak menyadari hubungannya sudah tak lagi sehat. Hal ini membuat mereka yang sudah terjerat, sulit untuk keluar dari hubungan yang Toxic. Arti dari Toxic Relationship sesuai dengan sebutannya, yaitu “meracuni” kesejahteraan fisik dan mental secara diam-diam[ii].

Apa aku pernah mengalami Toxic Relationship? Pernah. Apa aku sadar saat menjalaninya? Tidak, aku baru sadar setelah hampir 5 tahun sejak awal menjalin hubungan itu. Pada mulanya hubungan kami adalah hubungan yang biasa sampai 6 bulan pertama kami saling mengenal. Tapi jangan bayangkan ini hubungan romantisme antara cowok dan cewek ya hahaha. Karena nyatanya hubungan Toxic juga sangat bisa terjadi di antara 2 cewek yang menjalin pertemanan.

from Toxic Zone to Addict Zone [2/4]

 Titik Balik

Jika membaca paragraf terakhir Kisah Masa Lalu dan merasa aku sudah bahagia, sebenarnya itu hanya permulaan saja. Benar – benar pemulaan yang sangat kecil. Seperti seorang penyelam yang mencapai palung tergelap di kerendahan paling dasar, menjejakkan kaki dengan ragu – ragu namun berusaha meringankan tubuhnya seiring arus membawanya ke permukaan. Menggenggam harapan akan segera menyambut cahaya rembulan ataupun mentari yang menembus ke dalam lautan. Mulai merasakan saturasi oksigen yang perlahan tak lagi menyesakkan, pun tekanan yang memekakan telinga juga turut menghilang. Kira – kira seperti itulah gambaran yang bisa ku deskripsikan.

from Toxic Zone to Addict Zone [1/4]

 Kisah Masa Lalu

Aku akan menarik kisah ini mundur cukup jauh ke belakang terlebih dulu. Karena pada akhirnya aku menyadari titik penyebab atas alasan kisahku hari ini berawal dari kisah yang lampau ini hehehe.

Mungkin ini akan terdengar seperti sebuah alasan, aku tak pernah benar – benar bisa menjalin pertemanan yang akrab sampai SMP. Karena sejak lahir, aku—yang—prematur—ini, cukup sering sakit – sakitan sampai SD. Hampir setiap seminggu sekali ijin sakit dari dokter selalu terkirim ke guru wali kelas. Baru setelah kelas 3 SD imunku jadi lebih baik dan berkurang ijin sakit menjadi sebulan hanya 1 – 2 kali, dan semakin berkurang seiring menginjak kelas 6 SD. Hal ini yang membuatku cukup nyaman dengan diriku sendiri dan akrab dengan TV terutama channel kartun sambil rebahan di rumah hahahaha.

Jumat, 12 Agustus 2016

CATATAN HATI SEORANG IJAH (#6)



-M.A.G.A.N.G-

Matahari masih enggan beranjak dari peraduannya. Angin semilir kadang berhembus, di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, di pagi itu. “Inilah Jakarta”, aku berkata pada diriku sendiri. Aku baru selesai mandi di rumah orang tua Bulek Uus. Ya... tadi malam Om Us menjemput aku, Ibu, dan Om Hendrik di stasiun Pasar Senen. Memboyong kami ke Kebayoran, menaiki sedan biru, lengkap dengan supir yang berseragam, dan argo yang terus berjalan. Saat itu malam sudah larut, tapi tak menyurutkan keramaian di luar jendela taksi yang sedari tadi kupandangi. Ini memang bukan pertama kalinya aku datang ke Jakarta, tapi mengingat bahwa aku akan menghadapi 5 bulan ke depan “sendirian”, selalu membuatku gugup. Pasalnya, aku belum pernah berada jauh dari rumah untuk jangka waktu lama. Belum pernah lepas dari pelukan Ibu. Tak pernah melepas genggaman Bapak. Tak mengira takkan melihat adik-adikku, Salma dan Nia, dalam waktu lama. Bahkan aku sering merindukan mereka saat aku dalam perjalanan berangkat kuliah. Padahal, HEY!! Aku baru saja melihat mereka tak lebih dari 20 menit lalu. Yah... mungkin aku terlalu mencintai mereka. Cinta yang mungkin tak semua orang bisa mengerti dan tau rasanya seperti apa. Cinta yang kebanyakan orang kini mengabaikannya. Cinta kepada Keluarga.

Setelah sarapan, Om Us dan Nanda–anak Om Us, mengantar kami ke stasiun Kebayoran untuk melanjutkan perjalanan ke Citayam. Ke rumah Bulek Ria. Sesampainya di stasiun Citayam, aku, Ibu, dan Om Hendrik melanjutkan perjalanan dengan menaiki 3 ojek, beserta 2 koper ukuran sedang, 1 ransel, dan 1 kardus bekas air mineral yang semuanya berisi barang-barangku. Malam harinya, aku dibantu Ibu, membongkar semua barang bawaanku. Sifat manja dan parasitku ke Ibu masih saja kulakukan di beberapa jam menjelang “Tantangan” yang disebut Magang menghampiriku. Aku hanya memilihi barang yang perlu kubawa besok. Sisanya Ibu yang membereskan secara suka rela. Hihihihihi ^~^. Memalukan memang. Tapi aku tak bisa memungkiri betapa besar rasa ketergantunganku pada Wanita Tegar yang selalu ada di setiap “perjuangan”-ku itu.

Esok harinya, dengan ditemani Ibu dan Bulek Ria, aku berkunjung ke rumah Pak Wardi, salah satu Manajer di tempat magangku. Beliau bersedia memberi tumpangan mobil secara gratis padaku, sampai nanti aku berani berangkat dan pulang sendiri Citayam–Bogor. Sesampainya di kantor, aku diantar ke ruang HR. Di sana aku bertemu bu Indah, dan diberi surat penempatan magang. “Ini, kamu ke lantai 3 dan ketemu pak Sulis ya.”, kata bu Indah ramah seraya menyerahkan selembar kertas A4 berisi keterangan di mana aku akan melaksanakan magang.

Aku begitu gugup. Tak seorang pun ku kenal, kecuali pak Wardi. Ku coba untuk terus mengontrol diriku sendiri. Mencegah diriku melakukan kekonyolan di hari pertama magang. Kecerobohan dan polahku yang pecicilan sering tiba-tiba muncul di luar kendali. Belum lagi ditambah sulitnya aku untuk bersosialisasi, terutama di lingkungan baru. Ku naiki lift menuju lantai 3. Setelah keluar lift... aku tak tau harus ke kanan atau ke kiri. Aku merasa begitu bodoh. “Kenapa tadi aku nggak nanya ke bu Indah?”, tanyaku menyalahkan diri sendiri. akhirnya kuputuskan untuk ke kanan. Karna di sana ada ramai-ramai, sepertinya sedang ada penerimaan karyawan baru. Atau mungkin anak magang juga!!

Semuanya berkemeja putih dan bercelana hitam. Semuanya laki-laki. Ada 1 wanita berseragam perusahaan sedang mengatur sekitar 20 orang yang sedang berkumpul disitu. Karna terlihat sangat sibuk, aku enggan bertanya padanya karna takut mengganggu. Kulihat ada seorang laki-laki yang berdiri sendirian di tengah ruangan itu. Dia tak memiliki kelompok sendiri. ku beranikan diri melangkahkan kaki mendekatinya. Ku tarik nafas panjang. Dan... “Misi mas, kalo ruangan pak Sulis sebelah mana ya? Data Access Management?”, tanyaku sekenanya. “Oh saya juga baru di sini. Coba tanya sama Mbak yang itu.”, jawabnya begitu ramah. Mau nggak mau aku harus menyela Mbak-mbak itu untuk bertanya tentang bagian magangku. Aku dan laki-laki itu sempat mengobrol beberapa saat sambil menunggu jawaban Mbak-mbak tadi. Sampai tiba-tiba aku pergi melenggang tanpa sopan sedikitpun, meninggalkan percakapan kami karna aku terburu-buru mengikuti Mbak-mbak tadi memintaku mengikuti langkahnya yang cepat dan gesit.

Semua orang di ruangan tempatku duduk sekarang terlihat begitu sibuk. Mungkin karna sibuknya, mereka tak terlalu memedulikan kehadiranku. Kabar buruk selanjutnya adalah, “Pak Sulis sedang cuti sampai minggu depan.”. JLEB!! Dan seperti yang kuduga, aku dianggurkan seharian penuh di hari pertamaku magang. Aku dibiarkan “menonton” kegiatan mereka di salah satu sofa yang berada di ruangan itu. Untung tak lama kemudian, muncullah 7 orang anak SMK yang juga magang di ruangan ini. 3 diantaranya berada di divisi yang sama denganku. Aku mulai kembali bersemangat. Sampai kudengar mereka terus bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab. TT^TT. Yahh.. mereka dari pondok pesantren yang ada SMK nya.

Piye Al magange?”. Tulisan dari pesan singkat yang kuterima dari Ibu. Ibu berkata ingin menjemputku ke kantor, sore ini. “Jemput ke sini?”, tanyaku membalas pesan Ibu. Ibu memang memiliki kekhawatiran yang berlimpah. Ibupun ngotot akan menjemputku bersama Om Hendrik dengan naik KRL dilanjutkan naik angkot. “Ibu di luar kantor”. Pesan itu sempat membuatku geli dan mengingatkanku pada “sifat konyol” yang diturunkan Ibu padaku. Wkwkwkwk XD. Akupun pulang dengan penuh rasa gembira. Seperti anak playgroup yang selesai bersekolah dan menyadari Ibunya telah menjemputnya. Kulupakan kekesalanku di kantor hari ini. Karna Ibu masih disampingku. Berada dalam jangkauannya selalu membuatku tenang :’).

Jumat, 17 Juni 2016

CATATAN HATI SEORANG IJAH (#5)



-Bersama = Bahagia-

Minggu lalu, sehari sebelum Memei dan Upit melaju menuju Jakarta, berbekal koper, tas, dan selembar karcis kereta yang akan membawa mereka menemukan pengalaman melalui petualangan baru mereka “sendiri”, kami memutuskan untuk berkumpul di rumah Memei. Aku dan Gita berangkat bersama. Kami berboncengan menggunakan motor Gita. Kali ini Gita tak lewat Sigar Bencah, jalur yang biasa dia lalui ketika berangkat dan pulang kuliah. Kami lewat Tanah Putih, karna kami berencana mampir dulu di salah satu studio foto dekat patung Diponegoro, yang lebih dekat jika jalur yang kami ambil adalah jalur yang melewati Tanah Putih. Naik, turun, dan meliuk. Kunikmati setiap pemandangan jalur yang akrab kulewati setiap berangkat dan pulang kuliah. “Kuharap ini yang terakhir di semester ini–sudah masuk semester 6 sekarang–aku melakukan perjalanan ke arah menuju kampus. Semoga aku bisa segera menyusul Gita, Upit, dan Memei untuk melaksanakan magang.”, aku berdoa dibalik kaca helmku, di kursi penumpang. Ya.. waktu itu kalo tidak salah, tanggal 27 Maret 2016. Nasib magangku belum jelas. Tapi bersama mereka berempat, selalu saja terasa nyaman dan berhasil membuatku merasa lebih tenang menghadapi permasalahan. Sesampainya di studio foto, kuserahkan struk bukti pembayaran yang kami lunasi 2 minggu lalu, sesaat sebelum kami–aku, Gita, Memei, Ndeng, Upit, dan Za–berpose ria sesuai arahan fotografer studio foto tersebut. Kami berenam adalah calon engineer wanita (Insyaa Allah) dari kelas TE-3B. Setelah mendapatkan 6 lembar hasil cetakan foto kami, Gita kembali tancap gas, membawaku menuju rumah Memei yang tak jauh dari studio foto itu. “Assalamu’alaikum... Memei...”, kataku setelah turun dari boncengan dan berdiri di depan gerbang. Sedangkan Gita masih di atas motornya, bersiap memarkirnya di teras rumah Memei, di balik gerbang yang ada di hadapanku sekarang. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita dengan badan berisi dan wajah ceria. Dia lebih tinggi dariku, dan berkacamata. Memakai “pakaian rumah” yang khas dengan dirinya. Membukakan gerbang dan tersenyum padaku dan Gita. “Masuk”, katanya dengan muka cengengesan. “Misi ya, Mbak. Memei-nya ada?”, kata Gita sambil mengegas motornya, melewati wanita itu menuju teras rumah, dan memarkir motornya. “Ada, di dalam.”, kata wanita itu masih saja cengengesan. “Oh.. yaudah. Itu gerbangnya di tutup ya, Mbak.”, kataku ketus sambil menunjuk gerbang yang masih terbuka. “Oh.. iya iya”. Kami cekikikan bersama saat melangkah menuju dalam rumah, menghentikan drama aneh yang baru saja terjadi. Wanita tadi adalah Memei. Beberapa saat kemudian, Upit dan Ndeng datang berboncengan juga.

Lengkap sudah, “Hijabers Single”. Nama yang disematkan Gita untuk menggambarkan kami berlima. Entah dari mana dia mendapat ide untuk mebuat julukan, yang aku masih saja merasa geli ketika mengucapkannya. Mungkin benar kata orang, persamaan nasib bisa menjadi salah satu faktor beberapa orang membentuk sebuah kelompok. Dan kelompok kami berisikan 5 wanita berjilbab, berusia 20an, yang sedang berusaha menjadi engineer wanita yang handal, dengan imajinasi gila tak terbendung, sering tak ingat masalah dunia jika sudah berkumpul, beberapa kali membuat keonaran dan kebisingan, dan yang pasti kami berlima Single, alias Jomblo. Kisah asmara kami berlima bisa dibilang memiliki 1 garis merah yang hampir sama. Nasib kami sama. Terasa menggelikan setiap kami mulai berbicara soal status J.O.M.B.L.O yang melekat pada kami. Kami tak segan menyindir satu sama lain soal status jomblo itu, dan menghujani “korban” dengan berbagai ocehan kreatif-imajinatif yang tak terbayang jika ocehan itu benar-benar terjadi. Ada saja yang kami bicarakan, kami tak pernah kehabisan bahan obrolan. Mulai dari masalah kuliah, tugas, kegiatan di luar kampus, asmara, keluarga, berita terbaru yang muncul, dan berbagai hal yang tiba-tiba terlintas di pikiran kami. Tak jarang juga, kami mengobrol panjang lebar tentang agama dan rencana masa depan kami. Bisa dibilang, kami selalu berusaha mempunyai tujuan dan planning untuk masa depan yang kami yakin secerah muka kami yang ceria ketika bisa berkumpul bersama. Hihihihi :D.

Mangan yuk!”, kata Gita si Mesin Penggiling yang berbadan kurus. “Yuk! Aku yo ngeleh.”, kata Upit si Mesin Penggiling (2). Mereka berdua lebih sering merasa lapar duluan dibanding aku, Ndeng, dan Memei. Perut mereka juga mampu menampung porsi yang (jauh) lebih banyak dari kami bertiga. Meskipun begitu, badan mereka tidak berubah menjadi bulat. Mungkin belum. Wkwkwkwk XD. Kami berangkat ke warung penyet, siang itu. Kami memesan, mengambil posisi masing-masing, melingkar di meja lesehan, dan duduk saling berhadapan. Belum sampai 1 menit kami duduk, riuh mulai terdengar. Padahal di warung itu hanya ada kami berlima, 2 orang yang sedang makan di meja-kursi di belakangku, dan 2 juru masak yang sibuk membuat pesanan kami. Sesekali muncul hening di tengah obrolan kami. Tapi biasanya hanya berlangsung tak lebih dari 5 detik saja, dan perbincangan kembali berlanjut. Bisa dibilang, kami hanya bisa diam– berada di posisi yang sama dan tenang tanpa bicara–ketika kami makan, tidur, atau benar-benar merasa lelah, sehingga malas bicara. Benar saja. Setelah pesanan datang, warung mendadak terasa sepi. Hanya sesekali terdengar bunyi seruputan es teh melalui sedotan. Setelah makan selesai. Kami membuat “keributan” lagi. Kali ini Upit tiba-tiba membicarakan sinetron India yang sering di tonton ibunya. Gita dan Memei bersemangat menanggapinya. Ternyata ibu mereka berdua juga peminat sinetron itu. Dan seperti yang sudah sering terjadi di rumah. Karna ibu mereka menonton sinetron India itu, mau tak mau mereka juga ikut menontonnya. Mereka bertiga tertawa geli, membahas tontonan mereka yang sudah mirip ibu-ibu rumah tangga. Aku dan Ndeng hanya melongo. Tak mengerti yang mereka bicarakan. “Kalian ngomongin apa sih?”, tanyaku tak tahan terlihat bodoh karna hanya bisa melongo melihat mereka menertawakan hal yang tak kumengerti. Mereka bertiga menjelaskan padaku dan Ndeng tentang topik pembicaraan yang dimaksud. Akhirnya kami tertawa bersama, terbahak-bahak sampai perut kami yang tadi sudah kenyang, kini terasa sedikit sakit karena ototnya terus menegang setiap kami tertawa. Kami cukup lama di warung itu. Rasanya tak ingin beranjak. Bisa dibilang itu makan-makan bersama terakhir sebelum Memei berangkat nanti malam, dan Upit berangkat besok pagi-pagi sekali. Setelah waktu menjelang sore, dan matahari sudah tidak terlalu terik, kami baru memutuskan untuk kembali ke rumah masing- masing. Mengucapkan salam perpisahan untuk Upit dan Memei. Memeluk mereka, dan berdoa yang terbaik untuk kami berlima. “Semoga kita bisa sukses dan berhasil bersama-sama”. Aamiiin.... ^,^

Besoknya, Allah menjawab doaku tentang magang. Aku mendapat kabar aku diterima magang di Bogor. Aku bergegas memberi tahu Ibu. Ibu terlihat ikut bahagia mendengar kabar itu. Akhirnya, Jumat 1 April 2016, aku dan Ibu memesan tiket kereta di St. Poncol tujuan St. Pasar Senen untuk keberangkatan Sabtu 2 April 2016, kereta Tawang Jaya pukul 14.00. Karna 4 April 2016 aku harus sudah memulai magang. Ya... aku diantar Ibu. Karna memang bisa dibilang, aku anak rumahan banget. Meskipun aku anak sulung, aku anak paling manja di rumah dibanding 2 adikku. Hehehehe XP. Aku memberi kabar tentang keberangkatanku ke 4 sahabat SMK ku dan 4 sahabat kuliahku (Hijabers Single XD). Ada satu hal yang mengganjal keberangkatanku, Gigih, sahabat SMK ku akan menikah 2 minggu lagi. Aku ragu bisa hadir di acara yang sangat penting itu. Tapi aku berusaha keras, benar-benar berniat hadir. “Semoga Allah mengijinkan aku hadir di saat terpenting di hidupmu, ya Gih. Aamiiin”, doaku dalam hati. Setelah membeli tiket kereta, aku mengantar Ibu ke rumah Bulek Nanik yang letaknya dekat stasiun Poncol. Sedangkan aku menuju kampus untuk mengurus surat Perjanjian Magang, sekaligus berpamitan dengan pak Kaprodi dan pak Endro, pembimbing magangku.


Sudah di kampus. Aku sendirian. Kayak orang ilang. Bingung mau ngapain. Lupa bawa laptop, padahal HARUS ngedit berkas perjanjian. Akhirnya aku “malak” laptop orang yang beberapa kali kulihat ngobrol sama Upit dan Memei. Perlu digaris bawahi, aku sebenernya sama sekali nggak kenal orang itu. Alhamdulillah.. cewe yang aku pinjem laptopnya baik banget >o<. Dia salah satu penyelamat pelaksanaan magangku. Terima kasih banyak untuk orang yang biasa dipanggil UCIL sama Upit dan Memei. Selesai sudah pengurusan berkas. Sudah pamit juga. Saatnya menjemput Ibu dan kembali ke rumah untuk bersiap. Bismillah... Lancarkanlah perjalanan magangku ini ya Allah :) ... Aaamiiiin...

Jumat, 10 Juni 2016

CATATAN HATI SEORANG IJAH (#4)


-Rencana Allah-

3 hari berlalu sudah, sejak Bulek menerima paket proposal dariku. Tak enak hati sebenarnya, terus-menerus menanyakan tentang kepastian magang pada Bulek setiap hari. Tapi, seolah tak ada pilihan lain. Tak ada banyak waktu tersisa. Aku dan Ndeng masih sering bertemu, meskipun kami hanya tinggal menunggu keputusan perusahaan (untuk kedua kalinya). Bedanya, sekarang  kami menunggu keputusan perusahaan yang berbeda. Memei dan Upit sudah bersiap berangkat ke Jakarta. Sedangkan Gita sudah sibuk dengan magangnya di Semarang.
Seminggu lewat juga. Aku dan Ndeng benar-benar pasrah pada Allah. Kurasakan kegelisahan Ndeng yang masih terus menyelubungi pikiran dan perasaannya. Saat itu kami berdua makan siang bersama, di warung dekat kampus. Kami saling diam beberapa menit, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Sampai akhirnya Ndeng mengatakan hal yang tak kusangka. “Aku ketompo magang neng Semarang, rakpo wes Jah.”, katanya sambil melihatku. Seolah memohon padaku dapat mengabulkan permintaannya tadi. Kutatap matanya. Pandangannya kosong, dia tak benar-benar melihatku, matanya hampir berkaca-kaca. Aku tak tau apa yang harus kukatakan. “Setertekan itukah kamu, Ndeng?”, batinku. Hatiku terluka melihat Ndeng mulai menyerah. Ku pegang lengan kirinya yang dia letakkan di atas meja. “Kamu kok ngomong gitu sih, Ndeng?”. Ndeng hanya diam. terlihat dari ekspresinya, banyak hal yang sedang melayang di pikirannya sekarang. “Bukannya kamu pengen magang di luar kota? Kamu pengen banget kan magang di Jakarta?”, tanyaku memecah lamunannya. “Iyaa.. Jah. Tapi liat kondisinya sekarang? Waktu udah mepet. Perusahaan masih belum kasi kepastian juga. Aku kudu piye?”. Baru pertama kali aku melihat Ndeng seperti ini. “Ndeng, kita kudu semangat! Kita mesti yakin kita bisa, Ndeng!”. “Tapi ki... hhhh...”, Ndeng menghela nafas. Dia kehabisan kata-kata. “Percaya sama rencana Allah, Ndeng!”, kali ini aku sedikit meremas lengan Ndeng karna gemas melihatnya seperti itu. Ndeng tersenyum melihat aku yang gemas dengan kelakuannya. Aku ikut tersenyum melihatnya. “Akhirnya senyum itu muncul juga. Alhamdulillah.. makasih ya Allah.”, batinku senang. Kurasakan semangatnya mulai muncul lagi. Kami melanjutkan percakapan sambil menikmati hidangan yang sudah diantar di hadapan kami. Ada kejadian lucu sesaat setelah pelayan memberikan pesanan kami. “Mas, ada sendok sama garpu?”, tanya Ndeng. “Itu Mbak”, kata pelayan sambil nunjuk sendok-garpu yang tertata rapi di tempatnya, tepat di hadapan Ndeng. “Ndeng...”, kataku menatap Ndeng menahan geli. “Oh iyo... hahaha”, Ndeng cekikikan sambil mengambil sendok-garpunya. “Apa itu kurang, Mbak?”, ledek pelayan tadi sambil senyum-senyum nahan geli juga, liat tingkah Ndeng. “Nggak.. nggak Mas.”, jawabku sambil ketawa. SROOOKK... Tiba-tiba pelayan tadi memasukkan segenggam penuh sendok-garpu ke tempat yang ada di hadapan aku dan Ndeng. “Ini Mbak”.  Aku dan Ndeng kaget. Tawa kami meledak melihat kelakuan pelayan itu. Hiburan yang sangat menyenangkan disela-sela kegalauan kami. Hahahaha XD.
Kalo tidak salah, Selasa 29 Maret 2016. Aku mendapat kepastian dari perusahaan tujuanku. Tepat sehari, setelah kloter terakhir yang berangkat ke Jakarta memulai magangnya. Bulek memberi kabar bahwa aku harus menandatangani berkas dari perusahaan tujuanku. Alhamdulillah aku sudah diterima. Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal. “Bagaimana dengan Ndeng, Za, dan Rika?”, tiba-tiba muncul pertanyaan itu dalam benakku. Langsung kukirim pesan singkat pada Ndeng. Aku memberi kabar padanya bahwa aku sudah diterima, sekaligus menanyakan kabar lamaran magangnya. Di antara kami berlima –aku, Ndeng, Gita, Upit, Memei– Allah memilih Ndeng untuk menerima ujian kesabaran yang jauh lebih berat dari kami berempat, dalam menemukan tempat magang yang sudah ditentukan-Nya. Lagi-lagi Ndeng tidak diterima di tempat magang tujuannya yang kedua.
          “Hawane kudu nangis, Jah.. Aku rak ngerti kudu piye meneh.”
Kata Ndeng dalam salah satu pesan singkat yang dia kirim padaku. Kuharap aku bisa ada di sampingnya sekarang. Membantu meredakan sedihnya. “Ya Allah.. tolong hibur sahabatku ini. Berilah petunjuk padanya untuk bertahan dan terus berjuang”. Aku hanya bisa berdoa dari kejauhan. Aku tau Allah punya rencana paling indah.
Akhirnya, Ndeng, Za, dan Rika, diterima di perusahaan pelayanan telepon yang ada di Semarang. “Doamu terkabul, Ndeng”, batinku tak lagi sedih mendapat kabar Ndeng sudah mulai magang. Doa Ndeng di warung waktu itu terkabul, doa tentang magang di Semarang. Ternyata itu yang terbaik buat Ndeng.

Dugaanku dulu ternyata benar. Kami berlima memang “harus” magang di tempat yang berbeda-beda. Aku di Bogor, Upit di Jakarta Selatan, Memei di Jakarta Barat, Gita di Semarang–daerah Tanah Putih, dan Ndeng di Semarang–daerah Tembalang. Meskipun aku belum mengerti sepenuhnya mengapa kami ditakdirkan magang saling terpisah, aku yakin Allah punya rencana yang indah untuk kami setelah kami bertemu kembali. Berkumpul berlima. Melakukan kegilaan yang biasa terjadi ketika kami berlima dikumpulkan dalam satu tempat lagi. Dan menjadi tempat sampah untuk satu sama lain, dengan selalu bersedia menerima curhatan, keluh kesah, dan berbagai hal “nggak penting” lainnya.
Semangat!! untuk 4 sampai 6 bulan ke depan!! (9^o^)9 yosh...