Jumat, 17 Juni 2016

CATATAN HATI SEORANG IJAH (#5)



-Bersama = Bahagia-

Minggu lalu, sehari sebelum Memei dan Upit melaju menuju Jakarta, berbekal koper, tas, dan selembar karcis kereta yang akan membawa mereka menemukan pengalaman melalui petualangan baru mereka “sendiri”, kami memutuskan untuk berkumpul di rumah Memei. Aku dan Gita berangkat bersama. Kami berboncengan menggunakan motor Gita. Kali ini Gita tak lewat Sigar Bencah, jalur yang biasa dia lalui ketika berangkat dan pulang kuliah. Kami lewat Tanah Putih, karna kami berencana mampir dulu di salah satu studio foto dekat patung Diponegoro, yang lebih dekat jika jalur yang kami ambil adalah jalur yang melewati Tanah Putih. Naik, turun, dan meliuk. Kunikmati setiap pemandangan jalur yang akrab kulewati setiap berangkat dan pulang kuliah. “Kuharap ini yang terakhir di semester ini–sudah masuk semester 6 sekarang–aku melakukan perjalanan ke arah menuju kampus. Semoga aku bisa segera menyusul Gita, Upit, dan Memei untuk melaksanakan magang.”, aku berdoa dibalik kaca helmku, di kursi penumpang. Ya.. waktu itu kalo tidak salah, tanggal 27 Maret 2016. Nasib magangku belum jelas. Tapi bersama mereka berempat, selalu saja terasa nyaman dan berhasil membuatku merasa lebih tenang menghadapi permasalahan. Sesampainya di studio foto, kuserahkan struk bukti pembayaran yang kami lunasi 2 minggu lalu, sesaat sebelum kami–aku, Gita, Memei, Ndeng, Upit, dan Za–berpose ria sesuai arahan fotografer studio foto tersebut. Kami berenam adalah calon engineer wanita (Insyaa Allah) dari kelas TE-3B. Setelah mendapatkan 6 lembar hasil cetakan foto kami, Gita kembali tancap gas, membawaku menuju rumah Memei yang tak jauh dari studio foto itu. “Assalamu’alaikum... Memei...”, kataku setelah turun dari boncengan dan berdiri di depan gerbang. Sedangkan Gita masih di atas motornya, bersiap memarkirnya di teras rumah Memei, di balik gerbang yang ada di hadapanku sekarang. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita dengan badan berisi dan wajah ceria. Dia lebih tinggi dariku, dan berkacamata. Memakai “pakaian rumah” yang khas dengan dirinya. Membukakan gerbang dan tersenyum padaku dan Gita. “Masuk”, katanya dengan muka cengengesan. “Misi ya, Mbak. Memei-nya ada?”, kata Gita sambil mengegas motornya, melewati wanita itu menuju teras rumah, dan memarkir motornya. “Ada, di dalam.”, kata wanita itu masih saja cengengesan. “Oh.. yaudah. Itu gerbangnya di tutup ya, Mbak.”, kataku ketus sambil menunjuk gerbang yang masih terbuka. “Oh.. iya iya”. Kami cekikikan bersama saat melangkah menuju dalam rumah, menghentikan drama aneh yang baru saja terjadi. Wanita tadi adalah Memei. Beberapa saat kemudian, Upit dan Ndeng datang berboncengan juga.

Lengkap sudah, “Hijabers Single”. Nama yang disematkan Gita untuk menggambarkan kami berlima. Entah dari mana dia mendapat ide untuk mebuat julukan, yang aku masih saja merasa geli ketika mengucapkannya. Mungkin benar kata orang, persamaan nasib bisa menjadi salah satu faktor beberapa orang membentuk sebuah kelompok. Dan kelompok kami berisikan 5 wanita berjilbab, berusia 20an, yang sedang berusaha menjadi engineer wanita yang handal, dengan imajinasi gila tak terbendung, sering tak ingat masalah dunia jika sudah berkumpul, beberapa kali membuat keonaran dan kebisingan, dan yang pasti kami berlima Single, alias Jomblo. Kisah asmara kami berlima bisa dibilang memiliki 1 garis merah yang hampir sama. Nasib kami sama. Terasa menggelikan setiap kami mulai berbicara soal status J.O.M.B.L.O yang melekat pada kami. Kami tak segan menyindir satu sama lain soal status jomblo itu, dan menghujani “korban” dengan berbagai ocehan kreatif-imajinatif yang tak terbayang jika ocehan itu benar-benar terjadi. Ada saja yang kami bicarakan, kami tak pernah kehabisan bahan obrolan. Mulai dari masalah kuliah, tugas, kegiatan di luar kampus, asmara, keluarga, berita terbaru yang muncul, dan berbagai hal yang tiba-tiba terlintas di pikiran kami. Tak jarang juga, kami mengobrol panjang lebar tentang agama dan rencana masa depan kami. Bisa dibilang, kami selalu berusaha mempunyai tujuan dan planning untuk masa depan yang kami yakin secerah muka kami yang ceria ketika bisa berkumpul bersama. Hihihihi :D.

Mangan yuk!”, kata Gita si Mesin Penggiling yang berbadan kurus. “Yuk! Aku yo ngeleh.”, kata Upit si Mesin Penggiling (2). Mereka berdua lebih sering merasa lapar duluan dibanding aku, Ndeng, dan Memei. Perut mereka juga mampu menampung porsi yang (jauh) lebih banyak dari kami bertiga. Meskipun begitu, badan mereka tidak berubah menjadi bulat. Mungkin belum. Wkwkwkwk XD. Kami berangkat ke warung penyet, siang itu. Kami memesan, mengambil posisi masing-masing, melingkar di meja lesehan, dan duduk saling berhadapan. Belum sampai 1 menit kami duduk, riuh mulai terdengar. Padahal di warung itu hanya ada kami berlima, 2 orang yang sedang makan di meja-kursi di belakangku, dan 2 juru masak yang sibuk membuat pesanan kami. Sesekali muncul hening di tengah obrolan kami. Tapi biasanya hanya berlangsung tak lebih dari 5 detik saja, dan perbincangan kembali berlanjut. Bisa dibilang, kami hanya bisa diam– berada di posisi yang sama dan tenang tanpa bicara–ketika kami makan, tidur, atau benar-benar merasa lelah, sehingga malas bicara. Benar saja. Setelah pesanan datang, warung mendadak terasa sepi. Hanya sesekali terdengar bunyi seruputan es teh melalui sedotan. Setelah makan selesai. Kami membuat “keributan” lagi. Kali ini Upit tiba-tiba membicarakan sinetron India yang sering di tonton ibunya. Gita dan Memei bersemangat menanggapinya. Ternyata ibu mereka berdua juga peminat sinetron itu. Dan seperti yang sudah sering terjadi di rumah. Karna ibu mereka menonton sinetron India itu, mau tak mau mereka juga ikut menontonnya. Mereka bertiga tertawa geli, membahas tontonan mereka yang sudah mirip ibu-ibu rumah tangga. Aku dan Ndeng hanya melongo. Tak mengerti yang mereka bicarakan. “Kalian ngomongin apa sih?”, tanyaku tak tahan terlihat bodoh karna hanya bisa melongo melihat mereka menertawakan hal yang tak kumengerti. Mereka bertiga menjelaskan padaku dan Ndeng tentang topik pembicaraan yang dimaksud. Akhirnya kami tertawa bersama, terbahak-bahak sampai perut kami yang tadi sudah kenyang, kini terasa sedikit sakit karena ototnya terus menegang setiap kami tertawa. Kami cukup lama di warung itu. Rasanya tak ingin beranjak. Bisa dibilang itu makan-makan bersama terakhir sebelum Memei berangkat nanti malam, dan Upit berangkat besok pagi-pagi sekali. Setelah waktu menjelang sore, dan matahari sudah tidak terlalu terik, kami baru memutuskan untuk kembali ke rumah masing- masing. Mengucapkan salam perpisahan untuk Upit dan Memei. Memeluk mereka, dan berdoa yang terbaik untuk kami berlima. “Semoga kita bisa sukses dan berhasil bersama-sama”. Aamiiin.... ^,^

Besoknya, Allah menjawab doaku tentang magang. Aku mendapat kabar aku diterima magang di Bogor. Aku bergegas memberi tahu Ibu. Ibu terlihat ikut bahagia mendengar kabar itu. Akhirnya, Jumat 1 April 2016, aku dan Ibu memesan tiket kereta di St. Poncol tujuan St. Pasar Senen untuk keberangkatan Sabtu 2 April 2016, kereta Tawang Jaya pukul 14.00. Karna 4 April 2016 aku harus sudah memulai magang. Ya... aku diantar Ibu. Karna memang bisa dibilang, aku anak rumahan banget. Meskipun aku anak sulung, aku anak paling manja di rumah dibanding 2 adikku. Hehehehe XP. Aku memberi kabar tentang keberangkatanku ke 4 sahabat SMK ku dan 4 sahabat kuliahku (Hijabers Single XD). Ada satu hal yang mengganjal keberangkatanku, Gigih, sahabat SMK ku akan menikah 2 minggu lagi. Aku ragu bisa hadir di acara yang sangat penting itu. Tapi aku berusaha keras, benar-benar berniat hadir. “Semoga Allah mengijinkan aku hadir di saat terpenting di hidupmu, ya Gih. Aamiiin”, doaku dalam hati. Setelah membeli tiket kereta, aku mengantar Ibu ke rumah Bulek Nanik yang letaknya dekat stasiun Poncol. Sedangkan aku menuju kampus untuk mengurus surat Perjanjian Magang, sekaligus berpamitan dengan pak Kaprodi dan pak Endro, pembimbing magangku.


Sudah di kampus. Aku sendirian. Kayak orang ilang. Bingung mau ngapain. Lupa bawa laptop, padahal HARUS ngedit berkas perjanjian. Akhirnya aku “malak” laptop orang yang beberapa kali kulihat ngobrol sama Upit dan Memei. Perlu digaris bawahi, aku sebenernya sama sekali nggak kenal orang itu. Alhamdulillah.. cewe yang aku pinjem laptopnya baik banget >o<. Dia salah satu penyelamat pelaksanaan magangku. Terima kasih banyak untuk orang yang biasa dipanggil UCIL sama Upit dan Memei. Selesai sudah pengurusan berkas. Sudah pamit juga. Saatnya menjemput Ibu dan kembali ke rumah untuk bersiap. Bismillah... Lancarkanlah perjalanan magangku ini ya Allah :) ... Aaamiiiin...

2 komentar: