Jumat, 16 Juli 2021

from Toxic Zone to Addict Zone [3/4]

 Dia Toxic (?)

Seberapa sering mendengar tentang Toxic Relationship? Dilansir dari Verywell Mind, Toxic Relationship bisa muncul secara bertahap apabila salah satu pihak terus-menerus egois, tidak sopan, menuntut, dan bersikap negatif lainnya[i].

Karena alasan itulah kebanyakan orang yang berada dalam hubungan tersebut memiliki kecenderungan tidak menyadari hubungannya sudah tak lagi sehat. Hal ini membuat mereka yang sudah terjerat, sulit untuk keluar dari hubungan yang Toxic. Arti dari Toxic Relationship sesuai dengan sebutannya, yaitu “meracuni” kesejahteraan fisik dan mental secara diam-diam[ii].

Apa aku pernah mengalami Toxic Relationship? Pernah. Apa aku sadar saat menjalaninya? Tidak, aku baru sadar setelah hampir 5 tahun sejak awal menjalin hubungan itu. Pada mulanya hubungan kami adalah hubungan yang biasa sampai 6 bulan pertama kami saling mengenal. Tapi jangan bayangkan ini hubungan romantisme antara cowok dan cewek ya hahaha. Karena nyatanya hubungan Toxic juga sangat bisa terjadi di antara 2 cewek yang menjalin pertemanan.

Dan dari situlah kusimpulkan bagaimana aku bisa terjerat. Selama ini aku hanya berhati – hati dan menjaga jarak serta membuat batasan dalam membangun hubungan dengan lawan jenis. Tanpa pernah menduga bahwa hal – hal yang biasa terjadi antara cowok dan cewek juga bisa dialami dalam hubungan pertemanan antar cewek. Aku ceroboh dan terlalu naif.

Aku mengakui aku seorang ‘Kutu Buku’ yang introvert, membuat tak sedikit orang selalu menilaiku sebagai orang yang ‘Terlalu Polos’ dan ‘Kudet’. Aku sama sekali tak tertarik dengan Sosmed, dan baru memiliki beberapa akun Sosmed setelah kuliah. Tapi aku tak pernah menduga bahwa aku bisa menjadi korban Bully karena kukira Tameng-ku cukup kuat. Aku lemah pada orang – orang yang kuberikan kepercayaan yang sebenarnya tak mudah didapatkan karena aku keras kepala dan cukup waspada dengan orang asing. Karena aku memiliki tekad yang kuat untuk berteman, pada akhirnya aku cenderung berusaha semaksimal mungkin dan selalu penuh perasaan untuk menjaga hubungan yang mulai terjalin. Tanpa pernah menyadari bahwa bisa jadi perasaan kami tak sebanding. Definisi kami soal Teman dan Tulus berbanding terbalik. Mengira bahwa Perasaan (Cinta) Sepihak hanya bisa muncul antar lawan jenis.

Awalnya hubungan kami baik – baik saja dan cukup akrab, sampai di semester ke-2 tahun pertama kami, aku merasa mulai muncul celah. Aku yang hanya memiliki sangat sedikit pengalaman soal pertemanan, menganggap itu hal wajar karena siapa saja mungkin bisa bosan dalam sebuah hubungan. Kupikir dengan memberinya waktu sejenak dan ruang untuknya adalah keputusan yang baik. Sayangnya, aku tak hanya kesulitan bersosialisasi, kenyataannya aku juga sama sekali bukanlah orang yang peka bahkan cenderung cuek dan tak paham ‘kode-kode’. Aku tak tahu persis kapan tepatnya momen yang memicu munculnya Toxic dalam hubungan kami. Tapi jika dugaanku benar, sekitar  di masa – masa itulah. Masa – masa aku mencapai titik balikku. Mendapatkan kenikmatan dan berkah melimpah. Tanpa pernah menyadari ada seorang —yang sebenarnya aku sama sekali tak berkeinginan sekecilpun untuk melukai perasaannya— sampai mengambil keputusan dan bertindak untuk menyerangku dengan halus dari depan dan belakangku.

Dia mulai melontarkan candaan – candaan yang mencelaku, membuatku terlihat bodoh di depan teman – teman lain, dan membuat teman – teman cowok risih padaku dengan guyonan yang berhubungan dengan hal sensitif. Awalnya aku menganggap dia memang hanya bercanda tanpa bermaksud apapun. Tapi di sisi lain aku mulai bertanya – tanya tentang hal – hal negatif yang dia lontarkan.

Apa aku seburuk itu?

Ah.. aku salah ya?

Seharusnya aku menahan diri ya?

Sepertinya memang lebih baik untuk berusaha tidak mencolok. Apa aku kurang berusaha agar tidak menarik perhatian?

Kepercayaan diriku yang bahkan belum berdiri tegap mulai goyah kembali. Semakin dia lakukan berkali – kali, semakin runtuh perlahan kepercayaan diriku. Terkadang aku sadar hubungan kami sudah tak sehat. Tapi tiap kali aku coba menjauh, dia kembali merangkulku. Tiap aku membalikkan badan dan tidak melihat, dia kembali menunjukkannya tepat di depan mataku. Dia merendahkanku, kemudian menyanjungku. Dia menyingkirkanku, kemudian meraihku kembali. Dia mengangkatku tinggi – tinggi untuk kemudian merasakan kebahagiaan setelah berhasil menjatuhkanku. Aku sama sekali tak bisa lepas dari bayang – bayangnya. Dia benar – benar pribadi yang cerah ceria dan sangat mudah berbaur dengan lingkungannya. Tak akan ada seorangpun yang menyangka hubungan kami nyatanya 'seburuk' itu. Ku akui aku mengaguminya dan ingin bisa setidaknya memiliki ¼ keberaniannya untuk menunjukkan sisi ceriaku dan bisa lebih ekspresif. Aku terluka dan terjerat. Dengan bodohnya sukarela mengikuti semua permainannya sampai akhir. Hanya karena aku tak mau lagi kehilangan teman. Dan kupikir memang begitulah seharusnya saling berkorban sesama teman. Aku hanya ingin akrab dengannya.

Jadi.. apa ini juga bagian yang disebut Titik Balik? YA.

Karena begitu banyak kebahagiaan dan hal – hal menyenangkan yang terjadi, hal kecil seperti candaan tersebut tak begitu kupikirkan. Banyak momen menyenangkan siap menyambut tiap kali aku sedih dan kecewa. Sampai – sampai hampir tak ada kesempatan untuk berkeluh kesah. Begitu banyak yang bisa ku syukuri saat itu. Meskipun ‘serangan mendadak’ darinya juga tak jarang terjadi. Dan bully-an verbalnya semakin lama semakin frontal, membuatku akhirnya terpaksa mengevaluasi secara seksama bagaimana keadaan hubungan kami sebenarnya.

Aku sungguh menyayanginya sebagai teman pertama yang akrab denganku. Tapi kusadari aku memiliki banyak kekurangan yang mungkin sering membuatnya kesal dan tanpa sadar menyebabkan dia melakukan hal yang mungkin dia sendiri tak sadar sudah melakukannya berkali – kali dalam beberapa tahun terakhir. Karena perasaan sayang dan takut ditinggalkan tersebut, aku menjadikan semua sikapnya sebagai sebuah maklum telah bersedia berteman denganku. Aku terus menjalani hubungan yang kupikir memang sewajarnya terjadi, terus – menerus merasa rendah dengan candaannya, selalu waspada dengan apa yang akan dia katakan, menjaga sikap dan berusaha untuk sama sekali tak mencolok saat di dekatnya, pun menyalahkan diri sendiri karena tak pernah berhasil menjadi Teman yang Baik Untuknya, bahkan aku harus mengontrol ekspresi dan tindakanku agar tak terlihat begitu bahagia sekalipun aku sedang mendapatkan sebuah pujian atau prestasi tertentu karena akan menyebabkan dia berekspresi sedih atau kesal. Jadi biasanya aku bisa lebih lepas dan menjadi diriku justru saat dia tak ada di sekitarku. Aku menikmati dan mensyukuri kebahagiaanku saat dia menjauh. Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk melepaskannya. Sampai suatu saat aku bertemu orang – orang ‘baik’ yang membuka mataku dengan paksa untuk melihat seberapa parah luka yang ku pelihara selama ini. Membuatku mengakui dengan mulutku sendiri bahwa aku sudah tenggelam dalam hubungan yang menyesatkan dan begitu fana.



[i] https://health.kompas.com/read/2020/11/27/200200568/kenali-apa-itu-toxic-relationship-tanda-hubungan-sudah-tak-sehat?page=all.

[ii] https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/tanda-toxic-relationship/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar